facebook google twitter tumblr instagram linkedin

Halaman

  • Muslimah Lifestyle
  • Study and Scholarship

egg-cellent


Ajari orang buta tentang matahari dengan hangatnya bukan dengan terangnya. –Salim Affilah

Tidak selalu harus menjadi guru di sekolah untuk mengajar dan mengajari. Tidak melulu harus bicara di depan orang banyak untuk bisa menjadi guru. Saya ingin lewat jalan ini saja, melalui deretan kata yang saya pilih. Saya ingin menggurui diri saya yang terkadang buta dan sengaja buta. Menggurui diri yang buta dengan rasa. Memaksa merasa bukan hanya melihat dengan indera. Meminta diri sabar dan syukur yang kadang luput.

Buta rasa menghilangkan empati di hati. Biasanya manusia menjelma jadi mahluk logika. Segalanya masuk ke pikiran dibumbui nafsu diri menjadi buta. Meski rasa hadir pun, kumpulan akal-logika mengiringi. Mereka kadang tak cukup kuat melawan dominannya diri ini menolak kebenaran. Kehadiran gerombolan kata yang tersusun rapi bisa menjadi satu jalan agar rasa hadir.
Sebagai manusia yang sering alfa, saya mencoba membuat sesuatu lebih abadi dengan kata yang disusun. Deretan huruf menjadi pengingat ketika terlupa. Kadang berhasil memaksa bahwa yang terpenting tak selalu terindera.
Meminta diri untuk tertunduk sabar dan syukur. Melengkapi kenangan dengan diksi agar menjadi indah. Dengan menjelma menjadi kata membuat refleksi yang lalu lebih menjadi lebih terang dibanding gambar di memori.

Saya mencari guru yang tepat dari dalam diri saya sendiri. Agar dengan hangatnya yang buta bisa mendeskripsikan matahari karena ia tak dapat melihat gelap. Dan bahwa orang yang paling baik adalah yang paling banyak manfaatnya. Jika ini bermanfaat untuk orang lain maka saya hanya berucap Alhamdulillah.

18.4.18 No comments


Sore tadi saya melihat mereka berjalan berpegang tangan di bawah gerimis
Payung yang seharusnya melindungi mereka malah ditinggal bersama saya
Saya tahu ini romantis dan terlihat manis
Sudah 30 tahun sejak mereka berjanji untuk berjalan bersama
Saya tahu persis tak ada diantara mereka yang sempurna 
Mereka hanya berjalan sesuai harmoni ditengah kesalahan satu dan lainnya

Berjalan bersamanya mereka ini kemudian membentuk aa dan saya 
Butuh 20 tahun dulu buat saya untuk akhirnya sadar tentang cinta mereka untuk saya dan kakak saya
Katanya perjalanan ini bukan cinta lagi, tapi sudah menjadi sabar dan perhatian
Cintanya telah menjadi sabar yang selalu berhasil menemukan kelebihan diantara kekurangan kami
Cintanya sudah menjadi perhatian berupa kecerewetan terindah buat kami
Mereka menjadi sosok terkuat buat saya hingga saya lupa bahwa mereka juga punya sisi rapuh. Hebat kan. :)

Waktu kecil saya tidak punya banyak mainan tapi saya punya mereka yang bermain bersama saya
Ketika sudah besar saya tidak punya banyak teman tapi saya punya mereka yang menjelma jadi sahabat 
Waktu kecil saya menangis karena ternyata sekolah membuat saya kesal tapi saya tahu mereka menunggu saya pulang untuk membuat saya tertawa
Ketika sudah besar saya juga menangis karena hati ini tersakiti tapi saya tahu mereka punya sabar untuk mendengarkan cerita saya

Terimakasih telah menyempurnakan

 "Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kalian kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku lah kalian kembali. (Q.S. Luqman:14)."

-anak bungsumu yang manja dan rungsingers- :p



3.5.17 No comments
Sudah sangat lama tidak menemukan inspirasi tulisan dari lagu. Biasa sekali sepertinya saat menemukan lagu yang cocok dengan kondisi kita langsung jadi lagu favorite. Saya sedikit berbeda karena jaman dahulu selalu suka lagu-lagunya penyanyi australian ini. Jaman awal-awal kuliah di Fisip lagu-lagu dia yang sering menemani waktu begadang mengerjakan tugas makalah yang dikebut menjelang deadline. Musiknya anak gadis beranjak dewasa banget, mau lagu sedih, lagu bahagia, lagu motivasi selalu ceria dan pas di telinga saya. Sampai pada hari ini di depan laptop dengan sekotak susu dingin rasa strawberry sehabis hujan (apa sih) dengan miris saya melihat tulisan yang menumpuk di draft blog. Tadinya saya mau menyalahkan kejutan hidup yang datang bersamaan tapi saya tahu itu hanya alasan pembenaran agar saya merasa lega membiarkan tulisan tanpa titik.

Jadi inilah lagu yang menginspirasi tulisan ini: Everything at Once - Lenka
Everything at Once - Lenka

Kata-kata nah ini yang pertama terlontar dari dalam hati saat dengar lagu ini lagi. Berada pada kondisi dikasih sama Allah everything at once membuat saya ingin menjadi everything at once dengan sempurna. 
Dasarnya manusia, saya lagi ngerasa hectic saat dikasih sama Allah everything at once. Kadang suka ketakutan sendiri yang tadinya ingin menjadi everything malah jadi nothing. Sekarang giliran saya menjadi everything tanpa anxiety berlebihan gara-gara perasaan nothing. Saya cuman ingin jadi yang hamba yang baik, anak yang baik, adik yang baik, partner yang baik, sahabat yang baik, dan warga negara yang baik. Saya tidak ingin memilih salah satunya saja dan memang tidak bisa. Hal ini memang terdengar perfeksionis. Saya melihatnya sebagai perfeksionis yang baik selama bisa menjaga niat baik dan membagi pikiran.
Tapi selalu inget pas mau ngeluh bersyukur-bersyukur dulu yang minta ini siapa? aku iyah aku.

8.11.16 No comments
Skenario Terindah dari Yang Maha Indah, deretan kata yang sederhana tapi punya makna yang legit untuk kehidupan. Setiap detik, skenario-skenario kehidupan sudah tersedia di atas sana. Skenario yang harus kita pilih salah satu untuk kemudian diupayakan dan berserah pada-Nya. Satu skenario yang dipilih tentu berbeda jalannya dari satu yang tidak kita pilih. Manusia mempunyai akal untuk menentukkan skenario  mana yang menurutnya adalah skenario indah, baik, dan bahagia. Namun skenario yang terindah selalu datang dari Yang Maha Indah sehingga kita perlu melibatkan-Nya dalam setiap keputusan skenario yang akan dipilih.
Setiap skenario yang dipilih pun diikuti serangkaian resiko yang menemani. Beragam resiko yang harus dihadapi tidak lagi dapat dipilih namun hanya harus dihadapi dan diterima karena ada beberapa hal yang hanya perlu kita terima tanpa banyak bertanya. Ya, namanya juga resiko atas pilihan skenario kita. Maka kita tidak lagi mau atau tidak mau tapi harus siap!. 
Perlu digaris bawahi bahwa Skenario Terindah dari Yang Maha Indah tidak selalu terasa indah di perjalanannya. Ada banyak kerumitan yang harus dilewati atau bahkan ada serangkaian tangis yang harus terbentuk untuk kemudian jadi yang terindah. Itulah bedanya ketika skenario yang hanya melibatkan manusia dihinggapi banyak kesedihan, kerumitan, dan hal tidak menyenangkan lainnya tidak akan dengan mudah berubah jadi indah. Namun saat hati rela menyerahkan pada Yang Maha Indah, Skenario Terindah mulai berjalan kepadamu meskipun secara perlahan. 
Seperti minggu-minggu ini saat berhenti menulis karena banyak kejutan skenario yang terjadi. Dari bahagia hingga tidak, dari tidak hingga bahagia, dari biasa menjadi luar biasa, dan dari luar biasa menjadi biasa. Setelah berusaha menjalani segala skenario, bukankah kita tidak boleh menyerah tapi berserah pada Allah. Percaya Skenario Terindah dari Yang Maha Indah. 
-E.S-


31.8.16 No comments
Setiap manusia pasti ingin benar dalam hidupnya, ada yang kebenaran dan ada yang pembenaraan. Keduanya sama-sama benar tapi memiliki arti yang saling menjauhi satu sama lain. Menurut kata-kata saya pribadi, kebenaran adalah realitas yang terjadi yang disertai dengan pembuktian sedangkan pembenaran adalah realitas yang muncul dari dalam diri manusia yang merupakan siasat agar menjadi benar. 

Saya harus merenung lama ketika menyadari yang akan saya tulis adalah bagian dari pembenaran saya. Beberapa hari ini ada hal-hal yang mengganggu pikiran dan hati ini. Saya yang tidak bisa menepati janji, saya yang menyangkal segala perasaan, dan saya yang telah mengecewakan beberapa sahabat. Di dalam pikiran saya, saya telah memiliki list dari alasan kenapa saya memilih melakukan hal-hal tersebut. List yang saya bangun terdiri dari banyak pembenaran dan hanya memiliki satu kebenaran. Kebenaran yang bercampur dengan pembenaran, hingga meminta maaf adalah salah satu jalan untuk meruntuhkan pembenaran yang saya bangun. Pada kenyataannya, pikiran saya sudah sangat dipenuhi oleh pembenaran yang saya bangun sejak lama. Sehingga saya tak cukup hanya dengan meminta maaf, saya harus mendorong diri saya untuk memunculkan pikiran positif mengenai kebenaran. 

Saya teringat bahwa setiap manusia akan memaksa manusia lainnya untuk masuk kedalam logikanya. Bagaimana jadinya ketika pembenaran seseorang beradu dengan pembenaran orang lain. 

Ketika saya memilih diam dan menerima pembenaran orang lain, didalam hati ada saja hal-hal yang ingin saya lontarkan meskipun saya tahan sekuat tenaga. Ketika saya hanya ingin diam dan menerima pembenaran orang lain, didalam hati ada saja  hal-hal yang ingin saya hakimi meskipun saya simpan saja dalam hati. Ketika saya ingin memaksakan pembenaran saya kepada orang lain, didalam hati ada keraguan mengenai kesalahan yang mungkin saja saya perbuat lagi. Ketika saya ingin memaksakan pembenaran saya kepada orang lain, didalam hati ada ketakutan mengenai perginya mereka seperti hari kemarin.

Sehingga saya hanya ingin diam sesudah berusaha menahan diri. Semoga Allah memberikan kekuatan agar segala pembenaran yang saya miliki tidak menggerogoti hati ini dan menghancurkan mereka (Aamiin) karena kebenaran memang hanya datang dari-Nya

..kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu Termasuk orang-orang yang ragu. (al-Baqarah: 147)



20.6.16 No comments
Marhaban ya Ramadhan.....
Ramadhan Mubarak.....


Insya Allah Ramadhan 1437 H tinggal beberapa jam saja di Indonesia.
Insya Allah selalu suka cita setiap menyambut bulan penuh berkah ini. Menurut Bapa, Ibu, sama AA sih, dari kecil saya selalu senang setiap menjelang Ramadhan. Mungkin yang saya pikirkan dulu hanya soal makanan soalnya saya bisa request makanan apapun yang saya mau tanpa dilarang-larang sama Ibu. Kalau buat sekarang sih misalnya saya jadi Handphone yang dicas setiap kali habis batre. Ramadhan selalu berhasil charge ibadah saya supaya jadi lebih baik lagi. Tidak hanya  itu, segala hal keduniawian juga bikin saya seneng kalau di bulan ini. Suasananya luar biasa. Bukan duniawi yang negatif yaaa, tapi yang Positif. hhoho. 

2.6.16 No comments
Akhirnya satu celebration sebagai tanda melepas masa mahasiswa datang juga, yuppp WISUDA. Melepas masa lajangnya belum datang aja nih, jadinya melepas masa mahasiswa lagi buat yang kedua kalinya. hoho. Jadi saya yang waktu itu terseok-seok mengerjakan tesis sehabis pulang dari Belanda, akhirnya bisa sidang juga di awal tahun 2016 ini. Penyelesaian tesis ini sedikit didorong sama the power of kepepet alias sudah kena deadline dari kampus. Sekarang Alhamdulillah saja, semua sudah selesei. Eh belum semua, Tesis di Belanda masih terus diupayakan. hehe

Wisuda sekarang secara khusus saya persembahkan untuk Bapak dan Ibu dan AA. Secara umumnya saya persembahkan buat Pak Prof, Ibu dan Bapak TU di kampus, dan kalian-kalian teman-teman tersayang. Sebenernya yang lebih banyak saya rasakan waktu wisuda adalah perasaan haru. Haru artinya saya lebih dari sekedar bahagia. Haru keinget perjuangan tesis ini, haru ketika sampai parkiran buat masuk gedung hujan besar (hujan adalah berkah loh, jadi saya bahagia saja :p), haru akhirnya bisa bikin Bapa, Ibu, sama AA bangga lagi sama saya. Alhasil ketika di gedung, saya cuman bisa nangis yang bikin make up meleleh T.T. Tapi saya haru, haru yang lebih dari bahagia.....






Saya dan Bapa ketika baru keluar dari Gedung. Belum bisa senyum dengan baik, habis nangis sesegukan. :)

26.5.16 No comments
Saya Introvert, ada masalah?

Yaa kira-kira begitulah saya ingin berbicara di depan mereka yang berpikiran saya anti-sosial dan pendiam. Bahkan pernah ada yang bilang bahwa saya orang yang pemalu dan tidak punya selera humor hanya karena kata-kata saya dianggap aneh oleh mereka. Dulu saya boleh minder oleh keadaan saya ini, tapi sekarang saya sudah semakin dewasa. Sudah banyak hal yang akhirnya saya mengerti dan sadari. Salah satunya ada sifat bawaan seseorang yang memang sulit dirubah, misalnya introvert atau ekstrovert. 


Entah karena populasi introvert lebih sedikit daripada ekstrovert atau memang karena stigma yang sudah ada selama ini, orang-orang seperti saya ini dianggap sebagai alien diantara si ekstrovert. Tak jarang saat saya bicara, tidak ada satupun teman saya mengerti dan kemudian tatapan aneh muncul dari mereka. Hal itu karena introvert tidak suka bicara basa basi. Saya akan menjadi kaku ketika harus bercanda yang tak penting. Tak seperti 'kalian' yang begitu luwes untuk berbicara. 

Suatu hari saya pun pernah dibilang sebagai orang yang paling berbahaya karena saya pendiam. Menurutnya, saya berbahaya karena saya menyimpan apa  yang saya pikirkan di dalam diri saya sendiri. Saya memang lebih suka berkata di dalam pikiran dan imajinasi saya. Saya akan berbicara jika memang diperlukan. Memaksa seoarang introvert untuk tidak pendiam adalah sama sulitnya dengan memaksa orang ekstrovert untuk tidak bicara. 

Sebenarnya, permasalahan introvert dan stigma anti-sosial adalah hal yang paling saya benci. Siapa orang yang mau diberi titel negatif di dunia ini? Tak akan ada. Begitupun saya sebagai orang introvert. Introvert bukan anti-sosial, mereka hanya memilih lingkungan sosial mereka. Tak semua dapat dengan mudah menjadi teman seorang introvert. Terlalu dekat dengan banyak orang adalah hal yang menguras energi saya. Jadi saya lebih suka menyalurkan energi secara fokus kepada orang-orang yang benar-benar dekat dan saya percaya.


Saya introvert, ada masalah? Saya berbicara dengan cara saya sendiri. Saya berprestasi dengan cara saya sendiri. Saat saya tidak bersedia berkelakar bersama kalian, bukan berarti saya benci kalian. Saya hanya mencurahkan energi saya untuk orang-orang yang bisa membuat saya nyaman. Berbahagialah jika ada orang introvert yang merasa nyaman dengan kalian. Hal itu berarti, kalian adalah dunia baginya. 







5.2.15 No comments
Selamat, Wilujeng, dan Congratulation


Hai kamu. Yah kamu, klub sepak bola yang berasal dari Kota Bandung. Buatku kamu bukan sekedar klub sepak bola biasa. Aku telah mengenalmu sejak dari kakek, bapa, dan aa suka padamu. Aku senang melihat binar-binar mata mereka ketika menyaksikan kamu berlaga. Aku masih ingat saat aku masih sangat kecil, kakek bersila memangku aku yang tak bisa diam ketika kamu ada dilayar kaca. Yah, kakek selalu begitu, bersila di kursi kotaknya dan melihat lurus mengikuti permainan mu. Kemudian Bapa, aku juga selalu ingat ketika kamu akan memulai permainan, Bapa sudah duduk di sudut kursi panjang yang menghadap televisi. Lalu, ia akan mulai memainkan mimik wajah ketika kamu mulai beraksi. Bapa tak banyak bicara ketika memperhatikan permainanmu. Aku hanya akan mendengar teriakan Bapa sekali dua kali saat kamu gagal atau sukses menjebol gawang. AA. Aa adalah pengemar mu yang paling setia. Aku selalu ingat sebelum peluit panjang menandakan kamu mulai bermain, aa selalu berusaha solat. Berdoa katanya, supaya kamu menang. Aa berbeda dengan Bapa yang menikmatimu dalam diam. Aa sangat ekspresif. Dari mulai matanya yang berbinar melihatmu, mulutnya yang tak pernah berhenti bicara mengometarimu,  tangannya yang mengepal ikut sebal saat kamu kalah, juga kakinya yang melompat saat kamu menang. 
7.11.14 No comments
Aku: Hai malam
Malam: Hai ada apa?
Aku: Bolehkah aku menyapamu tanpa alasan?
Malam: Tentu :) aku tak bisa melihatmu dari atas sini tapi aku bisa mendengarmu
Aku: Ya hanya mendengar, suara kadang tak cukup mengartikan
Malam: Kalau begitu tulislah dan kirim kepadaku. Akan kulihat deretan kata sambil membayangkanmu
Aku: Sudah banyak tulisan ku berterbangan di atas sana bukan?
Malam: Aku ingin tulisan yang bisa cukup mengartikanmu.
Aku: Seperti apa?
Malam: Seperti  siang yang meski tak pernah bertemu  sang malam tapi tetap bergandengan
Aku: Aku tak mau diartikan siang. Aku mau sore hari karena ia lebih dekat denganmu.
Malam: Kau tak perlu lebih dekat denganku untuk tetap bergandengan. Aku akan selalu berlari mengejarmu. Setelah siang malam selalu datang kan?
Aku: Sudahlah, aku lelah dan hanya ingin melihatmu tanpa suara dan tulisan. Bukankah kau telah berjanji turun kemari dan biarkan kita saling memandang tanpa menyentuh.
Malam: Aku sangat ingin menyapamu lewat mataku. Tapi..
Aku: Apa? 
Malam: Aku takut aku akan menyentuhmu karena aku tak akan pernah merasa cukup dengan indahmu. Aku sangat ingin memegang tanganmu dan merasakan hangatnya. Tapi itu berarti sengsara bagimu seumur hidup.
Aku: Tapi aku benci sendiri disini. Tak bisakah kau melihatku tanpa membuatku jadi menderita?
Malam: Maaf. Dengan hanya suaraku saja membuatmu gelap apalagi dengan melihatku.
Aku: Aku akan membuatmu melihatmu dengan cahaya. Cahaya yang melindungiku dari gelapnya kau
Malam: Aku punya banyak gelap yang akan mengalahkan cahayamu. Biarkan aku mengagumimu dari jauh. Biarkan aku memelukmu dengan doa yang bersuara.
Aku: ......

19.10.14 No comments

Baiti Jannati.. Ya, begitulah aku menyebut rumahku. Bahkan aku menyimpan nomor telepon rumahku dengan nama Baiti Jannati. Baiti Jannati secara istilah memiliki arti Rumahku Surgaku. Hal ini memang terjadi bagiku. Rumah bagai surga dunia yang selalu aku nantikan setiap aku berada di luar rumah. Yah bahkan ketika aku sekedar pergi untuk kuliah yang hanya beberapa jam. Aku selalu merindukan rumahku dan segala isisnya.





Rumah dimana ada ibu yang selalu jadi malaikat bagi hidupku, ada bapa yang selalu jadi penjaga hatiku, ada aa yang selalu jadi peneduh hari-hariku. Pantas rumah adalah surga bagiku. Ada keluarga yang menurutku sempurna selalu menanti ku untuk pulang.






Rumah ku bukan rumah mewah seperti yang dimiliki teman-temanku. Rumah ku juga bukan rumah dengan halaman luas seperti impian ku sejak kecil. Namun harus kuakui rumahku sempurna dengan ruangan yang cukup besar berdesain sederhana dan barang-barang tua milik ibuku. Kenapa tua? Ya seingatku, ibu jarang sekali membeli perabotan rumah tangga, ibu selalu mempertahankan perabotan hingga ia rusak tak bisa dipakai lagi. Ada sofa tamu yang seingatku dibeli saat aku TK, ada sofa keluarga warisan nenek, meja tivi yang sejak aku kecil telah ada. Aku pikir selain keluarga, yaa aku suka rumahku secara fisik dan barang-barang yang ada di dalamnya.



Baiti Jannati, yaa aku setuju dan it works. Bukti pertama adalah sejak kecil aku tidak akan pernah bisa tidur selain dikamar ku. Bayangkan bagaimana repotnya ibu dan bapa ku saat kami harus menginap dirumah saudara dan kerabat. Kedua, aku sangat gampang tiba-tiba menangis saat merindukan keluargaku di rumah. Pernah suatu ketika ada acara perkemahan di sekolah. Aku menangis sejadi-jadinya saat acara dimulai hanya karena membayangkan malam ini aku tidak akan melihat keluarga ku. Ketiga, sejak dahulu sampai aku kuliah S1 aku selalu berusaha mengajak teman-temanku kerumah ku baik untuk kerja kelompok hingga untuk urusan menginap bersama teman-teman. Tau kenapa? Karena aku bangga dengan rumah sederhanaku (narsis). Hhaha. Tak salah memang, banyak teman-temanku berkata rumahku membuat mereka betah ditambah lagi keluargaku yang selalu hangat menyambut setiap tamu yang datang.



Yaaaa Baiti Jannati. Aku menulis ini dipagi hari saat cahaya matahari mulai masuk kamarku di detik-detik keberangkatan ku menuju negeri yang jauh dari rumahku. Satu lagi bukti Baiti Jannati, aku menangis saat ini membayangkan akan meninggalkan rumahku dan segala isinya. Meninggalkan keluargaku yang sempurna buatku. Meninggalkan kamarku dengan kasur yang meski telah terasa keras, tapi aku bersikukuh tak mau menggantinya. Meninggalkan sudut dimana aku bisa berkontempelasi dengan khusuk kepada Pencipta-ku. It's really hard for leaving my beautiful home. :(


21.8.14 No comments
Older Posts

About

Welcome to my nerdasaurus land from my own experiences, thoughts, and feelings.

Thank you for visiting my blog!

Diberdayakan oleh Blogger.

Labels

Poetry Sharing information Student Life Travel

Statistik

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates